Rabu, 20 April 2011

Lilian (Part 2)

  Lilian dengan ragu memasuki hotel tua tersebut. Ia melirik ke sekelilingnya. Sungguh suasana yang mengerikan. Lampu menyala lalu mati, sarang laba-laba ada di mana-mana, tak ada orang yang menginap atau pun melamar pekerjaan.
  "Permisi...," katanya pelan.
  "Ya, siapa itu?" sahut seorang wanita setengah baya yang sedang menuruni tangga.
  "Oh, mau menginap, ya? Padahal dulu tak ada orang yang mau menginap di sini," lanjut wanita tersebut.
  "Eumm, bukan mau menginap Nyonya, tapi, sa..saya mau melamar pekerjaan di sini," kata Lilian berhati-hati.
  "Oh, kukira kau akan menginap. Baiklah kau diterima," kata wanita itu begitu saja.
  "Eh, tidakkah melihat surat lamaranku ini?" tanya Lilian, wanita tersebut menggeleng-gelengkan kepalanya.

  Tak terasa, sebulan sudah Lilian bekerja di hotel tua tersebut. Ia masih penasaran siapa wanita tua yang menerima lamaran pekerjaannya. Lilian pun ketakutan berdiri sendirian di meja resepsionis. Ia lalu menggandeng tas merah dan telepon genggamnya. Ia memutuskan untuk pulang, tak tahan dengan suasana hotel yang mencekam.

  Esok harinya, Lilian begitu terkejut melihat hotel tua tempat ia bekerja sudah hangus, hancur, tak berdiri lagi. Ia lega, penasaran, sekaligus sedih lantaran melihat tempat ia mencari uang telah hilang. Ia baru menerima gaji sekali, 2.000.000. Ah, sungguh sial nasibnya!
  Namun, perasaan sedihnya terkalahkan dengan perasaan penasarannya. Ia segera memberanikan diri untuk bertanya dengan warga sekitar. Namun, tak ada yang tahu mengapa hotel tua tersebut hangus. Tidak ada penyebab yang pasti.
  Tiba-tiba seseorang memegang pundak Lilian. Ia tersentak, lalu menoleh ke belakang. Ah, ternyata wanita setengah baya waktu itu!
  "Ah, Nyonya!" kata Lilian terkejut.
  "Ya, aku, Xia," katanya.
  "Ah, ternyata namamu Xia. Eh, Nyonya, aku ingin bertanya mengapa gedung tua eh, maksudku, hotelmu hangus seperti terbakar, dan telah tak berdiri lagi seperti dulu?" tanya Lilian langsung.
  "Itu bukan hotelku, Lilian," kata wanita setengah baya itu, Xia.
  "Hei, dari mana kau tahu namaku?" tanya Lilian bingung.
  "Itu tak paerlu kau tahu. Yang perlu kau tahu, akulah yang membakar hotelku. Dan perlu kau tahu sekali lagi, kau harus kembali ke rumahmu yang sebenarnya!" perintah Xia.
  "Maksudmu??"

Minggu, 17 April 2011

Cerpen: Alan dan Alya

  Hari ini, Alan dan kembarannya, Alya akan berangkat sekolah bersama-sama.Ya.., walaupun sebenarnya mereka sedang bermusuhan. Penyebabnya? Tentunya hanya masalah sepele yang dibuat menjadi masalah besar. Untung mereka adalah anak kecil, jadi tidak akan terjadi pembunuhan atau penganiayaan (seperti yang di TV!hehehe)
  "Lho, kok, tumben anak-anak Papa yang lucu-lucu ini diam? Bukankah biasanya kalian ribut tidak bisa diam sama sekali?" goda Papa. Alan dan Alya hanya diam dengan wajah yang benar-benar kussssuuuutttt....

  "Alan Maulidya Amira!" seru Pak Andi, guru kelas Alan dan Alya.
  "Y..ya.., Pak..A..ada apa?" tanya Alan dengan terbata-bata, ia telah tahu bahwa nilai ulangannya kecil.
  "Lihat ulangan kamu! Buruk sekali! Ini hanyalah soal yang paling mudah, Alan! Hanya kamu yang mendapat nilai terkecil!" Pak Andi marah-marah.
  "Eumm, bisakah saya mendapat remedi, Pak?" tanya Alan ketakutan.
  "Tidak! Kamu harus menunjukkannya ke orang tuamu dan minta paraf darinya! Kalau tidak kamu lakukan, kamu akan mendapat nilai nol!" kata Pak Andi dengan lantang, Alan menundukkan kepalanya dalam-dalam, ia menangis.
  Alya yang tadinya tertawa kecil, kini iba melihat saudara kembarnya, Alan. Ia telah berniat akan membantu Alan menunjukkan hasil ulangannya kepada Papa dan Mama. Yah, walaupun tadinya berkelahi, mereka pasti akan berbaikan juga. Namanya anak kecil, apalagi dengan saudaranya. Ia pasti akan merasa iba juga..
   Alan..Alan...
   Alya..Alya...

Sabtu, 16 April 2011

We Love You Mom (Part 1)

  "Mama!!Hiks..hiks.." teriak Nadya sambil menangis.Akhirnya, mama mendatangi Nadya.
  "Ada apa anak mama tersayang?Kok, menangis.Mukanya jadi jelek, tuh!" canda mama.
  "Mama!Kok, malah bercanda!Nadya tadi dipukuli sama kakak itu!Mama pernah memuji dia karena kebaikannya.Padahal, dia itu jahat sama Nadya!Kak Risa jahat!!!" teriak Nadya lagi, kali ini lebih keras.
  "Ssstt...nggak usah nagis lagi, ah!Nadya, kan, sudah besar," nasihat mama.
  "huh!Mama jahat sama Nadya!Kalo tahu begini, lebih baik Nadya memilih tinggal sama Ayah saja!Daripada tinggal sama mama, mama jahat!Bukannya memarahi Kak Risa, malah membela Kak Risa!JAHAT JAHAT JAHAT!!!!" teriak Nadya yang ketiga kalinya, ia lalu segera ke kamarnya dan membanting pintu.
  "Lho, Nadya!Kok, kamu..," mama tak sanggup melanjutkan kata-katanya.

  Esok hari, Nadya memang benar-benar akan tinggal di rumah ayah.Mama sebenarnya tak ingin anak semata wayangnya meninggalkannya.Tetapi, entah kenapa, mama mengizinkan Nadya tinggal di rumah ayah.
  Sesampainya di rumah ayah, mama meneteskan air mata.Ia ingin mencium kening Nadya untuk terakhir kalinya.Namun tak bisa, Nadya segera pergi meninggalkan mama.Ia tak mau dicium oleh mama.Nadya berubah total.Mama menyesali apa yang telah ia perbuat kemarin.Anak semata wayangnya yang baru berumur 6 tahun sudah dapat memilih rupanya.Dan ia memilih ayah.Betapa teriris hati mama.Ia juga menyesali mengapa ia memilih bercerai dengan ayah, dan pada akhirnya akan seperti ini.

Di dalam rumah ayah.
"Ayaaaahhhh!!!" seru Nadya girang.
"Lho, Nadya!Mau menginap, ya?Mana mama?" tanya ayah sambil tersenyum.Rupanya, ia sedang menonton televisi.
"Udah, ah, yah!Nggak usah nanya mama lagi!Dan Nadya nggak menginap di sini, tapi, tinggal di sini," kata Nadya.
"Eummm..Boleh, deh, sayang..," terima ayah, walaupun ia masih penasaran mengapa Nadya sifatnya begitu berbeda hari itu.

Di rumah mama.
Mama sedih bukan main.Tak ada lagi canda dan tawa di rumahnya.Tak ada lagi suara ceria dari putrinya.Tak ada lagi tangisan lucu putrinya.Dan tak ada lagi dongeng yang dibacakan mama.
Mama begitu kesepian....Ia terus melihat foto-foto putrinya yang cantik dan lucu.

Esok harinya..
"Nadya, kenapa Nadya mau tinggal di sini?Bukankah lebih baik Nadya tinggal sama mama.Mama bisa kasih perhatian yang lebih terhadap Nadya," kata ayah.Nadya menggeleng pelan sambil memasang wajah cemberut.............................

Lilian (Part 1)

  Seorang gadis China berusia 19 tahun kabur dari rumahnya. Ia tak punya tujuan. Ia depresi. Yang ia pikirkan hanyalah bagaimana cara agar ia tak menjadi depresi dan memulai hidup yang lebih baru. Ia tak mau kembali ke rumahnya. Bertemu ibu, ayah, dan kakak-kakaknya.
  Ia benar-benar depresi karena masalah yang dihadapinya. Ia bertengkar dengan kakak-kakak kandungnya serta kakak-kakak iparnya. Penyebabnya hanyalah karena perbedaan pendapat. Namun, kondisi semakin memanas ketika ibu dan ayahnya malah memaki-makinya dan malah membela kakak-kakaknya yang licik, terutama kakak iparnya yang berasal dari Inggris, Prude Rossaline.
 
  Pukul 03.00, Lilian telah bangun. Ia telah mandi dan sarapan. Ia juga telah menata barang-barang kesayangannya serta pakaian-pakaian yang banyak di dalam koper besar.
  Lilian diam-diam meninggalkan rumah tempat di mana ia dilahirkan dan dibesarkan dalam sebuah keluarga yang  arogan dan tak baik. Tak ada gundah dan rasa penyesalan ketika Lilian telah berjalan jauh meninggalkan rumahnya. Malah, ia senang dan bahagia telah terlepas dari kakak-kakaknya yang jahat dan licik serta ibu dan ayahnya yang tak pernah merawatnya dengan baik.

  Lilian telah sampai di sebuah kota. Kota terpencil yang jauh sekali dari rumahnya. Namun, hanya ada satu masalah. Lilian sama sekali tak tahu jalan dan derah tersebut! Mau tak mau, akhirnya, Lilian harus bermalam di sebuah hotel yang tentu saja menguras uangnya. Padahal, uangnya sangat sedikit.
  Akhirnya, ia telah sampai di depan sebuah hotel tua yang sepi. Ia memang agak takut. Tetapi..Ia memutuskan tak akan mau bermalam di sana. Lilian gadis yang pintar. Ia akhirnya memutuskan agar menginap di rumah warga selama beberapa waktu.

  Lilian beruntung. Ia diterima di sebuah rumah warga yang sederhana. Rumah itu ditempati oleh sebuah keluarga yang  baik dan ramah dari sebuah negara tropis.
  Lilian diperlakukan dengan baik di keluarga tersebut. Namun, karena tak ingin menyusahkan, ia segera mencari pekerjaan. Lilian memang gadis cantik serta baik dan cerdas. Ia rupanya tak lupa membawa surat lamaran kerja!

  Seminggu telah terlewati, namun, Lilian belum mendapat pekerjaan. Pada akhirnya, Lilian mau tak mau harus melamar pekerjaan di hotel tua yang pernah ia lewati seminggu lalu......(to be continue)