Lilian dengan ragu memasuki hotel tua tersebut. Ia melirik ke sekelilingnya. Sungguh suasana yang mengerikan. Lampu menyala lalu mati, sarang laba-laba ada di mana-mana, tak ada orang yang menginap atau pun melamar pekerjaan.
"Permisi...," katanya pelan.
"Ya, siapa itu?" sahut seorang wanita setengah baya yang sedang menuruni tangga.
"Oh, mau menginap, ya? Padahal dulu tak ada orang yang mau menginap di sini," lanjut wanita tersebut.
"Eumm, bukan mau menginap Nyonya, tapi, sa..saya mau melamar pekerjaan di sini," kata Lilian berhati-hati.
"Oh, kukira kau akan menginap. Baiklah kau diterima," kata wanita itu begitu saja.
"Eh, tidakkah melihat surat lamaranku ini?" tanya Lilian, wanita tersebut menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tak terasa, sebulan sudah Lilian bekerja di hotel tua tersebut. Ia masih penasaran siapa wanita tua yang menerima lamaran pekerjaannya. Lilian pun ketakutan berdiri sendirian di meja resepsionis. Ia lalu menggandeng tas merah dan telepon genggamnya. Ia memutuskan untuk pulang, tak tahan dengan suasana hotel yang mencekam.
Esok harinya, Lilian begitu terkejut melihat hotel tua tempat ia bekerja sudah hangus, hancur, tak berdiri lagi. Ia lega, penasaran, sekaligus sedih lantaran melihat tempat ia mencari uang telah hilang. Ia baru menerima gaji sekali, 2.000.000. Ah, sungguh sial nasibnya!
Namun, perasaan sedihnya terkalahkan dengan perasaan penasarannya. Ia segera memberanikan diri untuk bertanya dengan warga sekitar. Namun, tak ada yang tahu mengapa hotel tua tersebut hangus. Tidak ada penyebab yang pasti.
Tiba-tiba seseorang memegang pundak Lilian. Ia tersentak, lalu menoleh ke belakang. Ah, ternyata wanita setengah baya waktu itu!
"Ah, Nyonya!" kata Lilian terkejut.
"Ya, aku, Xia," katanya.
"Ah, ternyata namamu Xia. Eh, Nyonya, aku ingin bertanya mengapa gedung tua eh, maksudku, hotelmu hangus seperti terbakar, dan telah tak berdiri lagi seperti dulu?" tanya Lilian langsung.
"Itu bukan hotelku, Lilian," kata wanita setengah baya itu, Xia.
"Hei, dari mana kau tahu namaku?" tanya Lilian bingung.
"Itu tak paerlu kau tahu. Yang perlu kau tahu, akulah yang membakar hotelku. Dan perlu kau tahu sekali lagi, kau harus kembali ke rumahmu yang sebenarnya!" perintah Xia.
"Maksudmu??"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar